Menurut aqidah Ahlussunah Waljamaah : Sahabat adalah orang yang waktu bertemu (berkumpul) dengan Rasulullah dalam keadaan beriman dan waktu mati juga dalam keadaan beriman.
Apabila ada orang yang waktu bertemu atau berkumpul dengan Rasulullah dalam keadaan beriman, kemudian dia murtad (keluar dari Islam), maka orang tersebut tidak termasuk (tidak digolongkan) sebagai sahabat. Sebab waktu mati dia tidak dalam keadaan beriman tapi sudah murtad.
Karena itu di zaman Khalifah Abu Bakar orang-orang murtad itu diperangi. Adapun orang-orang Munafiqin, mereka itu tidak termasuk sahabat, karena mereka itu tidak beriman, tapi pura-pura beriman. Dhohirnya beriman, tapi batinya tetap kafir.
Yang mengherankan mengapa orang-orang Syiah itu alergi dan sangat benci kepada para sahabat. Padahal apabila kita menyebut sahabat, maka didalamnya ada Imam Ali ada Siti Fatimah ada Al Hasan dan Al-Husin serta ada istri-istri Rosulullah saw. Mereka disamping sebagai Ahlul Bait juga sebagai sahabat Rosulullah saw.
Benarkah Rasululullah SAW pernah melarang umatnya mencaci-maki para sahabat dan adakah perintah beliau agar kita mencintai para sahabat ?
Rasulullah SAW pernah bersabda :
الله الله فى اصحابى لا تتخذوهم غرضا من بعدى
فمن احبهم فبحبى أحبهم ،ومن أبغضهم فببغضى أبغضه
( رواه الترمذى )
“ Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai sasaran caci-maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka berarti dia mencintai aku. Dan barang siapa membenci mereka, maka berarti dia membenci aku.”
( HR. At Turmudzi )
Sabda Rasulullah yang lain :
لا تسبوا أصحابى فوالذى نفسى بيده لو ان أحدكم
أنفق مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه
( رواه ا لبخارى ومسلم )
“ Janganlah kalian mencaci maki sahabat-sahabatku. Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, andaikata seseorang dari kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud, tentunya ia tidak mencapai satu mud maupun setengahnya yang dibelanjakan oleh seorang dari mereka (sahabat-sahabatku)”
( HR. Bukhari dan Muslim )
Itulah diantara hadist-hadist yang menunjukkan keutamaan para sahabat dan pujian-pujian dari Rasulullah SAW untuk mereka. Serta perintah Rasulullah agar kita menghormati dan mencintai mereka. Disamping ancaman dari Allah dan RasulNya bagi orang-orang yang memusuhi dan mencaci-maki para sahabat.
& Apakah ada ayat-ayat Al-Quran yang menerangkan kebesaran dan keutamaan para sahabat ?
Sebenarnya apabila orang-orang Syiah itu membaca Al-Quran dan memahami artinya, pasti mereka tidak akan bersikap yang tidak baik terhadap para sahabat.
Sebab dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan dan menerangkan kebesaran dan keutamaan para sahabat, serta ridha Allah pada mereka, disamping janji Allah untuk memasukkan mereka dalam surga.
Allah berfirman :
و السابقون الاولون من المهاجرين و الانصار و الذين
اتبعوهم باحسان رضى الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات
تجرى تحتها الانهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم
( التوبة : ١٠٠ )
“ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar”
( QS. At Taubah : 100 )
Dalam ayat yang lain Allah berfirman :
والذين امنوا وهاجروا وجاهدوا فى سبيل الله والذين أووا
ونصروا اولئك هم المؤمنين حقا لهم مغفرة ورزق كريم
( الانفال : ٧٤ )
“ Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.”
( QS. Al Anfal : 74 )
Firman Allah yang lain :
لقد رضى الله عن المؤمنين اذ يبايعونك تحت الشجرة
فعلم ما فى قلوبهم فأنزل السكينة عليهم وأثابهم فتحا قريبا
( الفتح : ١٨ )
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min, ketika mereka berjanji setia kepadanya dibawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”
( QS. Al Fath : 18 )
Demikian ayat-ayat yang menerangkan kebesaran dan keutamaan para sahabat serta ayat-ayat yang menunjukkan perjuangan dan pengorbanan para sahabat, serta pujian dan ridha Allah pada mereka.
Begitu pula janji Allah untuk memasukkan para sahabat dalam surga.
Apa yang mereka dapatkan tidak lain dikarenakan jasa-jasa mereka dalam membantu Rasulullah dalam menegakkan agama Allah. Mereka adalah orang-orang yang mendampingi Rasulullah baik dalam suasana damai maupun perang, didalam suasana gembira maupun sedih. Mereka korbankan harta bendanya, serta jiwa dan keluarganya demi Islam. Sehingga wajarlah bila mereka itu mendapat kedudukan yang sangat tinggi dari Allah SWT.
Melalui merekalah kita menerima ajaran Islam yang sudah teratur, sehingga kita tidak susah-susah lagi mencari-cari dan mengumpulkan Kalam Allah (Al-Quran) serta hadist-hadist Nabi.
Oleh karena jasa-jasa mereka tersebut dan karena Allah dan RasulNya telah memuji dan memberikan kedudukan yang sangat tinggi pada mereka, maka kita golongan Ahlus Sunnah Waljamaah mencintai dan menghormati mereka.
Kita siap berkorban apa saja, baik harta dan benda maupun jiwa raga demi membela mereka.
sumber : albayyinat.net
Showing posts with label KISAH PARA SAHABAH. Show all posts
Showing posts with label KISAH PARA SAHABAH. Show all posts
Friday, June 17, 2011
Sunday, November 7, 2010
Kisah Taubat Malik Bin Dinar
Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan dalam Kitab At-Tawwabin(orang-orang yang bertaubat), daripada Malik Bin Dinar bahawa beliau ditanya mengenai sebab taubatnya, lalu beliau menjawab: “Dahulunya aku adalah seorang polis (di zamannya) dan aku pernah membeli seorang hamba wanita yang cantik. Dia amat sesuai bagiku. Lalu, dia melahirkan seorang anak untukku dan aku pun amat kasih padanya. Ketika mana dia mula berjalan, maka bertambahlah kasih sayangku buatnya dalam hatiku. Dia bermesra denganku dan aku pun bermesra dengannya. Setelah dia berumur 2 tahun, dia meninggal dunia dan kesedihannya itu pedih buatku.”
“Pada satu malam iaitu malam pertengahan bulan Syaaban, iaitu malam Jumaat. Aku terlihat di dalam mimpiku seolah-olah telah berlakunya hari kiamat. Sangkakala pun telah ditiup dan para penghuni kubur pun dibangkitkan. Lalu semua makhluk pun dihimpunkan dan aku juga bersama mereka. Maka aku pun terdengar satu pergerakan, aku memalingkan pandanganku. Tiba-tiba ianya adalah seekor ular besar berwarna hitam kebiruan. Ia telah pun membuka mulutnya dan mengejarku. Aku berlari-lari di hadapannya tergesa-gesa. Dalam perjalananku, aku berjumpa dengan seorang lelaki tua yang bersih pakaiannya serta berbau wangi. Maka aku pun memberi salam kepadanya. Dia menjawab salam kepadaku. Aku pun berkata: “Wahai lelaki tua, selamatkanlah aku dari ular ini dan semoga Allah menyelamatkanmu jua.” Lelaki itu pun menangis dan berkata: “Aku ini lemah dan ianya (ular) pula lebih kuat dariku. Berlarilah dengan segera. Semoga Allah merupakan buatmu sesuatu yang menyelamatkanmu darinya.” Lalu, aku pantas berlalu terus ke hadapan. Lalu aku pun naik ke atas satu anjung daripada anajung-anjung hari kiamat itu. Lalu aku pun melalui di tepi beberapa tingkatan api neraka dan aku hampir-hampir terjatuh ke dalamnya disebabkan pergelutanku itu. Maka satu suara menjerit: “Berundurlah kamu! Kamu bukan daripada ahlinya.” Lalu aku berasa senang dengan kata-katanya itu dan aku pun berundur. Ular itu juga kembali mengejarku. Maka aku pun kembali semula kepada orang tua itu dan aku berkata: “Wahai orang tua! Aku sudah pun memintamu supaya menyelamatkanku dari ular itu, tapi kamu tidak melakukannya.” Lalu orang tua itu pun menangis dan berkata: “Aku ini lemah. Tetapi, kamu berlarilah kepada bukit itu. Di sana terdapat tinggalan orang-orang Islam. Jikalau kamu ada tinggalan di sana, ianya dapat membantumu.” Aku pun melihat ke arah sebuah bukit yang dikelilingi oleh perak. Padanya terdapat lubang dindingnya yang menembusi di belakangnya, terdapat dua daun pintu diperbuat dari emas merah, diselangi dengan batu delima dan diliputi oleh permata. Pada setiap daun pintu terdapat tirai dari sutera. Setelah mana aku melihat ke arah bukit itu, aku pun berlari-lari ke arahnya dan ular itu masih di belakangku.
Sehinggalah aku mendekatinya, beberapa malaikat A.S menjerit: “Angkatlah tirai, bukalah daun pintu dan perhatikanlah!, moga-moga terdapat simpanan buat orang putus asa ini dalam kalanganmu semua yang dapat menyelamatkannya dari musuhnya itu.” Setelah mana dibuka daun-daun pintu itu dan mereka memerhatikanku, aku dapati ramai kanak-kanak seumpama bulan-bulan. Ular itu pun mendekatiku dan aku tercengang. Beberapa orang dari kanak-kanak itu menjerit: “Dengarlah kamu semua! Kesemua kamu perhatikannya! Musuhnya telah pun menghampirinya.” Mereka itu pun datang memerhatikan sekumpulan demi sekumpulan. Tiba-tiba anak perempuanku memerhatikan aku, menangis dan berkata: “Demi Allah ini adalah ayahku!” Lalu dia pun melompat kepadaku dalam satu bekas diperbuat dari cahaya jalan seperti anak panah sehinggalah dia berada di sisiku. Dia pun menghulurkan tangan kirinya ke arah tangan kiriku. Maka aku pun berpaut kepadanya. Dia juga menghulurkan tangan kanannya ke arah ular itu sehinggalah ia melarikan diri. Kemudiannya, anakku itu meletakkan aku dan dia duduk dalam pangkuanku. Dia meletakkan tangan kanannya ke atas janggutku sambil berkata: Wahai ayahku!
“Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah?”(Surah Al-Hadid: 16).
Lalu aku pun menangis dan berkata: “Wahai anakku! Kamu semua tahu tentang Al-Quran?” Maka dia pun berkata: “Wahai ayahku! Kami semua lebih mengetahui tentangnya berbanding kamu semua.” Aku berkata: “Beritahulah kepadaku tentang si ular yang hendak membinasakanku itu.” Si anak itu menjawab: “Itulah amalan burukmu yang telah engkau menguatkannya. Ianya hendak menghumbankanmu ke dalam neraka Jahannam.” Aku bertanya: “Lelaki tua yang aku berjumpa dengannya itu?” Dia menjawab: “Itulah amalan solehmu yang engkau telah melemahkannya sehingga ianya tidak lagi mampu mengalahkan amalanmu yang buruk itu.” Maka aku pun berkata: “Wahai anakku, apakah yang kamu semua lakukan di bukit ini?” Dia menjawab: “Kanak-kanak orang Islam telah tinggal di dalamnya sehinggalah ke hari kiamat. Kami pula menantikan kamu semua datang kepada kami, maka kami dapat membantu kamu semua.” Malik bin Dinar pun berkata: “Maka aku pun terjaga dalam keadaan takut dan gementar. Maka aku pun memecahkan kesemua alat-alat yang digunakan dalam menentang Allah. Aku juga telah meninggalkan kesemua itu. Aku jua telah mengikatkan taubatku dengan Allah Taala, iaitu Taubat Nasuha. Maka Allah pun menerima taubatku itu.”
“Pada satu malam iaitu malam pertengahan bulan Syaaban, iaitu malam Jumaat. Aku terlihat di dalam mimpiku seolah-olah telah berlakunya hari kiamat. Sangkakala pun telah ditiup dan para penghuni kubur pun dibangkitkan. Lalu semua makhluk pun dihimpunkan dan aku juga bersama mereka. Maka aku pun terdengar satu pergerakan, aku memalingkan pandanganku. Tiba-tiba ianya adalah seekor ular besar berwarna hitam kebiruan. Ia telah pun membuka mulutnya dan mengejarku. Aku berlari-lari di hadapannya tergesa-gesa. Dalam perjalananku, aku berjumpa dengan seorang lelaki tua yang bersih pakaiannya serta berbau wangi. Maka aku pun memberi salam kepadanya. Dia menjawab salam kepadaku. Aku pun berkata: “Wahai lelaki tua, selamatkanlah aku dari ular ini dan semoga Allah menyelamatkanmu jua.” Lelaki itu pun menangis dan berkata: “Aku ini lemah dan ianya (ular) pula lebih kuat dariku. Berlarilah dengan segera. Semoga Allah merupakan buatmu sesuatu yang menyelamatkanmu darinya.” Lalu, aku pantas berlalu terus ke hadapan. Lalu aku pun naik ke atas satu anjung daripada anajung-anjung hari kiamat itu. Lalu aku pun melalui di tepi beberapa tingkatan api neraka dan aku hampir-hampir terjatuh ke dalamnya disebabkan pergelutanku itu. Maka satu suara menjerit: “Berundurlah kamu! Kamu bukan daripada ahlinya.” Lalu aku berasa senang dengan kata-katanya itu dan aku pun berundur. Ular itu juga kembali mengejarku. Maka aku pun kembali semula kepada orang tua itu dan aku berkata: “Wahai orang tua! Aku sudah pun memintamu supaya menyelamatkanku dari ular itu, tapi kamu tidak melakukannya.” Lalu orang tua itu pun menangis dan berkata: “Aku ini lemah. Tetapi, kamu berlarilah kepada bukit itu. Di sana terdapat tinggalan orang-orang Islam. Jikalau kamu ada tinggalan di sana, ianya dapat membantumu.” Aku pun melihat ke arah sebuah bukit yang dikelilingi oleh perak. Padanya terdapat lubang dindingnya yang menembusi di belakangnya, terdapat dua daun pintu diperbuat dari emas merah, diselangi dengan batu delima dan diliputi oleh permata. Pada setiap daun pintu terdapat tirai dari sutera. Setelah mana aku melihat ke arah bukit itu, aku pun berlari-lari ke arahnya dan ular itu masih di belakangku.
Sehinggalah aku mendekatinya, beberapa malaikat A.S menjerit: “Angkatlah tirai, bukalah daun pintu dan perhatikanlah!, moga-moga terdapat simpanan buat orang putus asa ini dalam kalanganmu semua yang dapat menyelamatkannya dari musuhnya itu.” Setelah mana dibuka daun-daun pintu itu dan mereka memerhatikanku, aku dapati ramai kanak-kanak seumpama bulan-bulan. Ular itu pun mendekatiku dan aku tercengang. Beberapa orang dari kanak-kanak itu menjerit: “Dengarlah kamu semua! Kesemua kamu perhatikannya! Musuhnya telah pun menghampirinya.” Mereka itu pun datang memerhatikan sekumpulan demi sekumpulan. Tiba-tiba anak perempuanku memerhatikan aku, menangis dan berkata: “Demi Allah ini adalah ayahku!” Lalu dia pun melompat kepadaku dalam satu bekas diperbuat dari cahaya jalan seperti anak panah sehinggalah dia berada di sisiku. Dia pun menghulurkan tangan kirinya ke arah tangan kiriku. Maka aku pun berpaut kepadanya. Dia juga menghulurkan tangan kanannya ke arah ular itu sehinggalah ia melarikan diri. Kemudiannya, anakku itu meletakkan aku dan dia duduk dalam pangkuanku. Dia meletakkan tangan kanannya ke atas janggutku sambil berkata: Wahai ayahku!
“Belum sampaikah lagi masanya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah?”(Surah Al-Hadid: 16).
Lalu aku pun menangis dan berkata: “Wahai anakku! Kamu semua tahu tentang Al-Quran?” Maka dia pun berkata: “Wahai ayahku! Kami semua lebih mengetahui tentangnya berbanding kamu semua.” Aku berkata: “Beritahulah kepadaku tentang si ular yang hendak membinasakanku itu.” Si anak itu menjawab: “Itulah amalan burukmu yang telah engkau menguatkannya. Ianya hendak menghumbankanmu ke dalam neraka Jahannam.” Aku bertanya: “Lelaki tua yang aku berjumpa dengannya itu?” Dia menjawab: “Itulah amalan solehmu yang engkau telah melemahkannya sehingga ianya tidak lagi mampu mengalahkan amalanmu yang buruk itu.” Maka aku pun berkata: “Wahai anakku, apakah yang kamu semua lakukan di bukit ini?” Dia menjawab: “Kanak-kanak orang Islam telah tinggal di dalamnya sehinggalah ke hari kiamat. Kami pula menantikan kamu semua datang kepada kami, maka kami dapat membantu kamu semua.” Malik bin Dinar pun berkata: “Maka aku pun terjaga dalam keadaan takut dan gementar. Maka aku pun memecahkan kesemua alat-alat yang digunakan dalam menentang Allah. Aku juga telah meninggalkan kesemua itu. Aku jua telah mengikatkan taubatku dengan Allah Taala, iaitu Taubat Nasuha. Maka Allah pun menerima taubatku itu.”
Thursday, November 4, 2010
Kisah Abdullah bin Amru ra dan Seorang Lelaki yang Telah Diberi Kabar Gembira bahwa Ia adalah Ahli Jannah
Dikeluarkan oleh Ahmad dengan isnad hasan dan Nasa’I dari Anas bin Malik ra, katanya: Kami sedang duduk bersama dengan Rasulullah saw, tiba-tiba Rasulullah saw bersabda, “Telah muncul dihadapanmu seorang lelaki Ahli Jannah.”
Terlihat seorang lelaki Anshar sedang mengusap-usap janggutnya dengan air wudhu sambil memegang sepatunya di tangan kirinya. Esok harinya, sekali lagi Rasulullah saw bersabda seperti itu. Pada hari yang ketiga, Rasulullah saw juga bersabda seperti itu dan lelaki itu muncul seperti kemunculannya pada hari pertama.
Ketika Rasulullah saw berdiri dari majlisnya, Abdullah bin Amru mengikuti lelaki Anshar itu dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku sedang bertengkar dengan bapakku dan aku bersumpah tidak akan menemuinya selama tiga hari. Jika engkau tidak keberatan, izinkanlah aku menumpang di rumahmu selama tiga hari.”
Lelaki Anshar itu mengizinkan Abdullah bin Amru ra menumpang di rumahnya selama tiga hari.
Anas berkata bahwa Abdullah menceritakan bahwa ia telah menghabiskan tiga malam tidur di rumah lelaki Anshar itu. Aku tidak pernah melihatnya beribadah yang banyak kecuali ia berdzikir sedikit dan menyebut “Allahu Akbar” kemudian dia bangun dari tempat tidurnyauntuk mendirikan shalat subuh. Aku hanya mengetahui kalau berbicara ia selalu berbicara mengenai kebaikan.
Kata Abdullah selanjutnya, Setelah tiga malam berlalu, aku menganggap amalannya itu biasa saja, lalu aku berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan bapakku dan tidak kabur dari rumah, tetapi aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda mengenai dirimu sebanyak tiga kali, “Telah muncul di hadapanmu seorang lelaki Ahli Jannah.” Setiap kali Rasulullah saw mengatakan kata-kata itu, engkau pun muncul. Karena itulah aku ingin mengetahui apakah amalan engkau itu sehingga Rasulullah saw mengatakan demikian. Akan tetapi aku tidak melihat amalan istimewa yang engkau lakukan.”
Lelaki Anshar itu berkata, “Tidak ada amalan lain yang aku lakukan selain yang engkau lihat.”
Ketika aku berpaling darinya, ia memanggilku dan berkata, “Tidak ada amalan lain yang telah aku lakukan selain yang engkau lihat, hanya saja ada satu amalan yang biasa aku lakukan yaitu aku tidak pernah menyimpan rasa dendam atau hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.”
Aku berkata, “Inilah amalan yang menyebabkan Rasulullah saw bersabda demikian tentang dirimu.”
(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Bazar seperti itu dan ia menamakan lelaki Anshar itu adalah Sa’ad)
Terlihat seorang lelaki Anshar sedang mengusap-usap janggutnya dengan air wudhu sambil memegang sepatunya di tangan kirinya. Esok harinya, sekali lagi Rasulullah saw bersabda seperti itu. Pada hari yang ketiga, Rasulullah saw juga bersabda seperti itu dan lelaki itu muncul seperti kemunculannya pada hari pertama.
Ketika Rasulullah saw berdiri dari majlisnya, Abdullah bin Amru mengikuti lelaki Anshar itu dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku sedang bertengkar dengan bapakku dan aku bersumpah tidak akan menemuinya selama tiga hari. Jika engkau tidak keberatan, izinkanlah aku menumpang di rumahmu selama tiga hari.”
Lelaki Anshar itu mengizinkan Abdullah bin Amru ra menumpang di rumahnya selama tiga hari.
Anas berkata bahwa Abdullah menceritakan bahwa ia telah menghabiskan tiga malam tidur di rumah lelaki Anshar itu. Aku tidak pernah melihatnya beribadah yang banyak kecuali ia berdzikir sedikit dan menyebut “Allahu Akbar” kemudian dia bangun dari tempat tidurnyauntuk mendirikan shalat subuh. Aku hanya mengetahui kalau berbicara ia selalu berbicara mengenai kebaikan.
Kata Abdullah selanjutnya, Setelah tiga malam berlalu, aku menganggap amalannya itu biasa saja, lalu aku berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan bapakku dan tidak kabur dari rumah, tetapi aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda mengenai dirimu sebanyak tiga kali, “Telah muncul di hadapanmu seorang lelaki Ahli Jannah.” Setiap kali Rasulullah saw mengatakan kata-kata itu, engkau pun muncul. Karena itulah aku ingin mengetahui apakah amalan engkau itu sehingga Rasulullah saw mengatakan demikian. Akan tetapi aku tidak melihat amalan istimewa yang engkau lakukan.”
Lelaki Anshar itu berkata, “Tidak ada amalan lain yang aku lakukan selain yang engkau lihat.”
Ketika aku berpaling darinya, ia memanggilku dan berkata, “Tidak ada amalan lain yang telah aku lakukan selain yang engkau lihat, hanya saja ada satu amalan yang biasa aku lakukan yaitu aku tidak pernah menyimpan rasa dendam atau hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.”
Aku berkata, “Inilah amalan yang menyebabkan Rasulullah saw bersabda demikian tentang dirimu.”
(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Bazar seperti itu dan ia menamakan lelaki Anshar itu adalah Sa’ad)
Surat Khalid Bin Walid ra Kepada Penduduk Parsi
Dari Abu Wail ra berkata, “Khalid bin Walid ra mengajak penduduk Parsi untuk masuk Islam dengan mengirim surat yang isinya :
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
Dari Khalid bin Walid ra kepada Rustam dan Mehran serta para penguasa Parsi.
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah. Selanjutnya…
Aku mengajak kalian untuk masuk Islam. Jika kalian menolak untuk masuk Islam, maka kalian harus membayar jizyah dengan kepatuhan dan kehinaan; dan jika kalian menolak membayar jizyah, maka aku akan membawa suatu pasukan dimana mereka lebih senang mati syahid di jalan Allah seperti mana penduduk Parsi menyenangi minuman keras.
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah.
(HR. Thabrani. Al Haitsmi berkata dalam kitabnya jilid V halaman 310, isnad hadits ini hasan atau shahih).
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
Dari Khalid bin Walid ra kepada Rustam dan Mehran serta para penguasa Parsi.
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah. Selanjutnya…
Aku mengajak kalian untuk masuk Islam. Jika kalian menolak untuk masuk Islam, maka kalian harus membayar jizyah dengan kepatuhan dan kehinaan; dan jika kalian menolak membayar jizyah, maka aku akan membawa suatu pasukan dimana mereka lebih senang mati syahid di jalan Allah seperti mana penduduk Parsi menyenangi minuman keras.
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah.
(HR. Thabrani. Al Haitsmi berkata dalam kitabnya jilid V halaman 310, isnad hadits ini hasan atau shahih).
Tuesday, November 2, 2010
Khalid Bin al-Walid – Pahlawan Islam yang Teguh
ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin” demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.
Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.
Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.
Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, “O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu”.
Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.
Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-’an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.
Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.
Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.
Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.
Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.
Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.
Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.
Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.
Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran.
Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya.
Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.
Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.
Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.
Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.
Khalid bin alWalid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.
Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.
Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.
Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.
Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.
Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemauan-Nya.
Sumber : Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.
Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.
Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka’bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, “O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu”.
Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.
Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-’an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.
Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.
Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.
Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.
Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya.
Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.
Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.
Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.
Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran.
Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya.
Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak alam.
Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.
Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.
Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.
Khalid bin alWalid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam.
Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak.
Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.
Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.
Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.
Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan kemauan-Nya.
Sumber : Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
BILAL DAN PENDERITAANNYA
Bilal r.a.hu adalah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling terkenal. Dia merupakan muazzin atau juru azan di Masjid Nabi. Dia merupakan seorang hamba Habshi yang dimiliki oleh seorang kafir di Mekah. Pengislamannya telah menimbulkan kemarahan yang tidak keruan didalam hati pemiliknya. Dia pun diazabkan tanpa perikemanusiaan. Umayyah bin Khalaf, pemusuh ISLAM yang terkemuka yang memiliki Bilal akan membaringkannya atas pasir yang panas membakar serta meletakkan batu besar diatas dadanya sehingga ia tidak dapat menggerakkan tulangnya yang lapan kerat. Kemudian berkatalah Umayyah kepada Bilal:"Tinggalkanlah agamamu. Kalau tidak matilah kamu dalam kepanasan matahari yang tegak."
Bilal menjawab dengan berkata:"Ahad"-(Tuhan Yang Esa)-"Ahad-(Tuhan Yang Esa)."
Pada waktu malam ia didera dengan cemeti sehingga badannya luka. Pada waktu siang pula, dia dibaringkan diatas pasir yang panas. Tuannya berharap yang ia akan meninggalkan agamanya atau pun mati akibat luka-luka dibadannya. Namun demikian Bilal masih tetap dengan pendiriannya yang teguh. Umayyah, Abu Jahal dan pengikut-pengikut mereka menyiksa Bilal secara bergilir-gilir. Akhirnya Abu Bakar telah menebuskannya dan dari sejak itu hiduplah ia sebagai seorang Muslim yang bebas. Semenjak ia dibebaskan, dia sentiasa berdampingan dengan Nabi Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w. wafat. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., Bilal pun meninggalkan Kota Madinah.
Pada suatu ketika dia telah melihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mimpinya. Berkata Nabi Muhammad s.a.w. kepada Bilal: "Wahai Bilal, mengapakah kamu tidak melawatku?"
Sebaik-baik sahaja dia bangun dari tidurnya, dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah. Setibanya dia dikota itu dia telah berjumpa dengan Hassan dan Hussain, cucunda Nabi Muhammad s.a.w. Mereka menyuruh dia berazan.Permintaan orang yang dicintainya itu tidak dapat ditolak. Apabila suara Bilal berkumandang diruang angkasa Kota Madinah, penduduk-penduduknya pun tanpa segan dan silu menghamburkan air mata mereka kerana teringat zaman keemasan yang telah mereka lalui semasa hidupnya kekasih mereka Nabi Muhammad s.a.w. Sekali lagi Bilal telah meninggalkan Kota Madinah dan akhirnya meninggal dunia di Damsyik pada tahun Hijiriah yang ke dua puluh.
Bilal menjawab dengan berkata:"Ahad"-(Tuhan Yang Esa)-"Ahad-(Tuhan Yang Esa)."
Pada waktu malam ia didera dengan cemeti sehingga badannya luka. Pada waktu siang pula, dia dibaringkan diatas pasir yang panas. Tuannya berharap yang ia akan meninggalkan agamanya atau pun mati akibat luka-luka dibadannya. Namun demikian Bilal masih tetap dengan pendiriannya yang teguh. Umayyah, Abu Jahal dan pengikut-pengikut mereka menyiksa Bilal secara bergilir-gilir. Akhirnya Abu Bakar telah menebuskannya dan dari sejak itu hiduplah ia sebagai seorang Muslim yang bebas. Semenjak ia dibebaskan, dia sentiasa berdampingan dengan Nabi Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w. wafat. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., Bilal pun meninggalkan Kota Madinah.
Pada suatu ketika dia telah melihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mimpinya. Berkata Nabi Muhammad s.a.w. kepada Bilal: "Wahai Bilal, mengapakah kamu tidak melawatku?"
Sebaik-baik sahaja dia bangun dari tidurnya, dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah. Setibanya dia dikota itu dia telah berjumpa dengan Hassan dan Hussain, cucunda Nabi Muhammad s.a.w. Mereka menyuruh dia berazan.Permintaan orang yang dicintainya itu tidak dapat ditolak. Apabila suara Bilal berkumandang diruang angkasa Kota Madinah, penduduk-penduduknya pun tanpa segan dan silu menghamburkan air mata mereka kerana teringat zaman keemasan yang telah mereka lalui semasa hidupnya kekasih mereka Nabi Muhammad s.a.w. Sekali lagi Bilal telah meninggalkan Kota Madinah dan akhirnya meninggal dunia di Damsyik pada tahun Hijiriah yang ke dua puluh.
DOA DUA ORANG SAHABAT
Di dlm Kitab Hayatus Shahabah, halaman 524-525 diriwayatkan kisah berikut:
Menjelang Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa’d bin Abi Waqqash utk berdoa. Ajakan itu dipersetujui oleh Sa’d. Keduanya mulai berdoa. Sa’d berdoa terlebih dahulu:
“Tuhanku, jika nanti aku berjumpa dgn musuhku, berilah aku musuh yg sgt perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan kpdku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya (sebagai rampasan perang).”
Abdullah mengaminkannya. Tiba giliran Abdullah berdoa:
“Tuhanku, berilah aku musuh yg gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku bertemu denganMu, Engkau akan bertanya: ‘Man jada’a anfaka wa udzunaka?’ (Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bhw keduanya terpotong ketika aku berjuang di jlnMu dan jln Rasulullah (fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata: ‘Kamu benar!’ (shadaqta).”
Sa’d mengaminkan doa Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud dan doa keduanya dimaqbulkan Allah.
Sa’d bercerita kpd anaknya, “Duhai anakku, doa Abdullah lbh baik drp doaku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung pd seutas tali.”
Kisah ini tlh melukiskan sebuah cara utk mengukur cinta kita pd Allah. Sementara ramai yg berdoa agar mendapat ini dan itu, seorang pencinta sejati akan berdoa agar dpt bertemu dgn Kekasihnya sambil membawa sesuatu yg bisa dibanggakan.
Ketika di Padang Mahsyar nanti Allah bertanya kpd anda: “Dr mana kau peroleh hartamu di dunia?” Anda akan menjawab, “Harta itu ku peroleh dgn kolusi dan korupsi, dgn memalsu kuitansi, dgn mendapat cipratan komisi.”
Allah bertanya lagi, “Apa saja yg tlh engkau lakukan di dunia?”
“Ku hiasi hidupku dgn dosa dan nista, tak henti-hentinya ku cintai indah dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadapMu.” Allah dgn murka akan menjawab, “Kamu benar!”
Bandingkan dgn seorang hamba lain yg ketika di Padang Mahsyar berkata kpd Allah:
“Tlh ku tahan lapar dan dahaga di dunia, tlh ku basahi bibirku dgn zikir, dan tlh ku curahkan waktu dan tenagaku utk keagungan namaMu, tlh ku hiasi mlm ku dgn ayat suciMu dan tlh ku letakkan dahiku di sejadah utk bersujud pd kebesaranMu.”
Dan Allah akan menjawab, “Kamu benar!”
Duhai.. adakah kebahagian yg lbh dr itu; ketika seorang hamba menceritakan amalnya dan Allah akan membenarkannya.
Mahukah kita pulang nanti ke kampung akhirat dgn membawa amal yg bisa kita banggakan? Mahukah kita temui Kekasih kita sambil membawa amalan yg akan menyenangkanNya?
Allahu ‘lam bisshawab.
Menjelang Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa’d bin Abi Waqqash utk berdoa. Ajakan itu dipersetujui oleh Sa’d. Keduanya mulai berdoa. Sa’d berdoa terlebih dahulu:
“Tuhanku, jika nanti aku berjumpa dgn musuhku, berilah aku musuh yg sgt perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan kpdku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya (sebagai rampasan perang).”
Abdullah mengaminkannya. Tiba giliran Abdullah berdoa:
“Tuhanku, berilah aku musuh yg gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku bertemu denganMu, Engkau akan bertanya: ‘Man jada’a anfaka wa udzunaka?’ (Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bhw keduanya terpotong ketika aku berjuang di jlnMu dan jln Rasulullah (fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata: ‘Kamu benar!’ (shadaqta).”
Sa’d mengaminkan doa Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud dan doa keduanya dimaqbulkan Allah.
Sa’d bercerita kpd anaknya, “Duhai anakku, doa Abdullah lbh baik drp doaku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung pd seutas tali.”
Kisah ini tlh melukiskan sebuah cara utk mengukur cinta kita pd Allah. Sementara ramai yg berdoa agar mendapat ini dan itu, seorang pencinta sejati akan berdoa agar dpt bertemu dgn Kekasihnya sambil membawa sesuatu yg bisa dibanggakan.
Ketika di Padang Mahsyar nanti Allah bertanya kpd anda: “Dr mana kau peroleh hartamu di dunia?” Anda akan menjawab, “Harta itu ku peroleh dgn kolusi dan korupsi, dgn memalsu kuitansi, dgn mendapat cipratan komisi.”
Allah bertanya lagi, “Apa saja yg tlh engkau lakukan di dunia?”
“Ku hiasi hidupku dgn dosa dan nista, tak henti-hentinya ku cintai indah dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadapMu.” Allah dgn murka akan menjawab, “Kamu benar!”
Bandingkan dgn seorang hamba lain yg ketika di Padang Mahsyar berkata kpd Allah:
“Tlh ku tahan lapar dan dahaga di dunia, tlh ku basahi bibirku dgn zikir, dan tlh ku curahkan waktu dan tenagaku utk keagungan namaMu, tlh ku hiasi mlm ku dgn ayat suciMu dan tlh ku letakkan dahiku di sejadah utk bersujud pd kebesaranMu.”
Dan Allah akan menjawab, “Kamu benar!”
Duhai.. adakah kebahagian yg lbh dr itu; ketika seorang hamba menceritakan amalnya dan Allah akan membenarkannya.
Mahukah kita pulang nanti ke kampung akhirat dgn membawa amal yg bisa kita banggakan? Mahukah kita temui Kekasih kita sambil membawa amalan yg akan menyenangkanNya?
Allahu ‘lam bisshawab.
Tuesday, October 26, 2010
Kedudukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan disisi Ulama’ Salaf
قال أبوعلي الغَسَّاني الجَيَّاني – كما ذكر ابن خَلِّكان -: (أن عبد الله بن المبارك سئل: أيهما أفضل: معاوية بن أبي سفيان أم عمر بن عبد العزيز؟ فقال: “والله إنَّ الغبار الذي دخل في أنف معاوية مع رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل من عُمر بألف مرَّة، صلَّى معاوية خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: سمع الله لمن حمده. فقال معاوية: ربنا ولك الحمد. فما بعد هذا ؟”).اهـ.
Abu Ali Al-Ghossani Al-Jayyani sebagaimana disebutkan Ibnu Khollikan: “Bahwa Abdullah bin Mubarok ditanya, ‘Siapakah yang lebih afdhol, Mu’awiyah bin Abi Sufyan ataukah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz? Beliau menjawab: Demi Allah! Sesungguhnya debu yang masuk ke hidung Mu’awiyah (ketika) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih mulia seribu kali dari Umar (bin Abdul ‘Aziz). Mu’awiyah sholat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah. Mu’awiyah menjawab: Robbana wa Lakal Hamd. Adakah keutamaan yang lebih besar dari ini?”
Abu Ali Al-Ghossani Al-Jayyani sebagaimana disebutkan Ibnu Khollikan: “Bahwa Abdullah bin Mubarok ditanya, ‘Siapakah yang lebih afdhol, Mu’awiyah bin Abi Sufyan ataukah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz? Beliau menjawab: Demi Allah! Sesungguhnya debu yang masuk ke hidung Mu’awiyah (ketika) bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih mulia seribu kali dari Umar (bin Abdul ‘Aziz). Mu’awiyah sholat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau mengucapkan: Sami’allahu liman hamidah. Mu’awiyah menjawab: Robbana wa Lakal Hamd. Adakah keutamaan yang lebih besar dari ini?”
Kepahlawanan Para Shahabat Ketika Perang Yarmuk

Sejarah kejayaan Islam tak lepas dari amalan jihad yang diperani oleh para pendahulu umat ini. Jihad memiliki kedudukan mulia di dalam Islam. Tentunya, diatas ketentuan yang telah digariskan Allah dan Rasul-Nya . Bukan aksi teror yang muncul dari semangat tanpa ilmu. Tulisan berikut ini adalah memaparkan gambaran jihad fii sabilillaah di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq .
Seusai memulihkan kondisi jazirah ’Arab, dengan memerangi kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat, Abu Bakr berusaha keras memobilisasi pasukan Islam dalam upaya menaklukkan negeri Syam yang termasuk daerah teritorial kerajaan Romawi.
Keadaan Romawi sebelum Peperangan
Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, tentara Romawi merasa terkejut dan sangat takut. Dengan serta-merta mereka mengirimkan surat yang memberitahukan akan hal tersebut kepada Heraklius, raja Romawi yang berada di Himsh (sekarang dikenal dengan Homs –red). Dia pun melayangkan surat balasan yang berbunyi, ”Celaka kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Patuhilah aku, dan berdamailah dengan menyerahkan setengah penghasilan bumi Syam! Bukankah kalian masih memiliki pegunungan Romawi?! Jika kalian tidak mematuhi perintahku, niscaya mereka akan merampas negeri Syam dan akan memojokkan kalian hingga terjepit di pegunungan Romawi.”
Tatkala telah mendapatkan surat balasan seperti ini, mereka (tentara Romawi) tidak mau menerima saran tersebut. Akhirnya, mau tidak mau Raja Heraklius mengirim pasukan dalam jumlah yang besar. Pasukan Romawi mulai bergerak, dan berhenti di lembah Al-Waqusah, di samping sungai Yarmuk yang berdataran rendah dan memiliki banyak jurang.
Kedatangan Khalid bin Al-Walid dari ‘Iraq
Pasukan Islam yang berada di Syam segera meminta bantuan. Maka Abu Bakr Ash-Shiddiq memerintahkan Khalid bin Al-Walid agar menarik diri dari ’Iraq untuk kemudian menuju Syam bersama bala tentaranya. Dengan segera Khalid menunjuk Al-Mutsanna bin Haritsah v sebagai penggantinya di ’Iraq. Kemudian beliau bergerak cepat dengan membawa 9.500 personel pasukan menuju Syam. Mereka melalui jalan-jalan yang tidak pernah dilalui seorang pun sebelumnya, dengan menyeberangi padang pasir, mendaki gunung, serta melewati lembah-lembah yang sangat gersang.
Persiapan Pasukan Islam
Abu Sufyan mengusulkan, layaknya ahli strategi perang, agar pasukan dibagi menjadi tiga formasi. Sepertiga bersiap-siap di depan pasukan Romawi, sepertiga lainnya yang terdiri dari bagian perbekalan dan para wanita agar berjalan, dan sepertiga yang tersisa dipimpin oleh Khalid di posisi belakang. Jika musuh telah mencapai perkemahan wanita dan perbekalan, Khalid akan berpindah ke depan kaum wanita, sehingga mereka dapat menyelamatkan diri di belakang pasukan Khalid bin Al-Walid .
Maka mereka pun segera merealisasikan usulan itu. Pasukan Islam mulai berkumpul dan berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 13 H.
Strategi Pasukan Islam
Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36 ribu sampai dengan 40 ribu personel tentara. Didalamnya terdapat seribu orang shahabat Nabi . Seratus orang dari mereka adalah para veteran perang Badar. Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah (namanya Hanzholah bin Ath-Thufail) memimpin posisi tengah pasukan. ’Amru bin Al-’Ash dan Syarahbil bin Hasanah memimpin sayap kanan pasukan. Sedangkan pemimpin sayap kiri pasukan adalah Yazid bin Abi Sufyan (dia dikenal dengan sebutan Yazid Al-Khoir).
Khalid membawa kudanya ke arah Abu ’Ubaidah dan berkata, ”Aku akan memberikan usul.” Abu ’Ubaidah menjawab, ”Katakanlah, aku akan mendengar dan mematuhinya.” Khalid kembali berkata, ”Musuh pasti menyiapkan pasukan besar untuk membobol pertahanan pasukan kita. Aku khawatir pertahanan sayap kiri dan kanan akan kebobolan. Menurutku, pasukan berkuda harus dibagi menjadi dua kelompok. Satu pasukan ditempatkan di belakang sayap kanan, dan yang lain ditempatkan di belakang sayap kiri. Apabila musuh berhasil menembus pertahanan sayap kiri atau kanan, para pasukan berkuda berperan membantu mereka. Lalu kita datang menyerbu dari belakang.” Abu ’Ubaidah berkomentar, ”Alangkah jitu usulmu itu!”
Khalid bin Al-Walid pun memerintahkan agar Abu ’Ubaidah ibnul Jarrah pindah ke posisi belakang. Hal ini agar jika ada tentara Islam berlari mundur, ia akan malu saat melihatnya kemudian kembali ke kancah pertempuran. Kemudian Khalid menginstruksikan agar para wanita bersiap-siap dengan pedang, pisau belati, dan tongkat. Khalid berkata, ”Siapa saja yang kalian jumpai melarikan diri dari medan pertempuran, bunuh dia!”
Strategi Pasukan Romawi
Setelah menerima bantuan personel dari pusat, pasukan Romawi maju dengan kesombongan membawa 240 ribu personel. 80 ribu pasukan pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda, dan 80 ribu pasukan yang diikat dengan rantai besi (setiap sepuluh tentara diikat menjadi satu agar tidak lari dari peperangan).
Mereka bergerak hingga menutupi seluruh tempat yang ada seakan-akan mereka adalah awan hitam. Mereka berteriak-teriak, mengangkat suara tinggi-tinggi, sementara para pendeta, uskup, maupun pihak gereja mengelilingi pasukan membacakan Injil sambil memotivasi mereka agar gigih dalam berperang.
Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George), sayap kiri dan kanan dipimpin oleh Mahan dan Ad-Daraqus. Pasukan penyerang dipimpin oleh Al-Qolqolan, menantu Heraklius. Adapun pimpinan tertinggi pasukan ini adalah saudara kandung Heraklius yang bernama Tadzariq.
Perundingan sebelum meletusnya Pertempuran
Abu ’Ubaidah dan Yazid bin Abi Sufyan maju ke arah pasukan Romawi dengan membawa Dhirar bin Al-Azur, Al-Harits bin Hisyam dan Abu Jandal bin Suhail untuk bertemu dengan Tadzariq yang tengah duduk di dalam tenda yang terbuat dari sutera.
Para shahabat berkata, ”Kami tidak dihalalkan memasuki tenda ini.” Maka dibentangkanlah karpet dari sutera dan mereka dipersilahkan untuk duduk di atasnya. Para shahabat berkata, ”Kami tidak diperbolehkan duduk di atasnya.” Akhirnya Tadzariq duduk di tempat yang mereka inginkan. Para shahabat mendakwahinya agar masuk Islam, namun perundingan ini berakhir tanpa hasil. Akhinya mereka pun kembali ke barisan pasukan. Pemimpin sayap kiri Romawi yang bernama Mahan ingin bertemu dengan Khalid bin Al-Walid di antara dua pasukan yang saling berhadapan. Mahan berkata, ”Kami mengetahui bahwa kemiskinan dan kelaparanlah yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian. Maukah kalian jika aku beri sepuluh dinar untuk setiap tentara beserta makanan dan pakaian, lalu kalian pulang ke negeri kalian? Dan pada tahun depan aku akan memberikan jatah yang serupa?”
Khalid bin Al-Walid menjawab, ”Sesungguhnya, bukanlah yang mengeluarkan kami dari negeri kami apa yang engkau sebutkan tadi. Tetapi sebenarnya kami adalah sekelompok manusia peminum darah. Dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih segar daripada darah kalian, bangsa Romawi. Untuk itulah kami datang kesini!” Mendengar jawaban itu para sahabat Mahan berucap, ”Demi Allah, ucapan tersebut baru pertama kali kita dengar dari bangsa ’Arab.”
Jalannya Pertempuran
Pasukan Romawi pada perang ini keluar dalam jumlah besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Khalid juga membawa pasukan besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ’Arab. Tatkala persiapan sudah matang, Khalid memerintahkan untuk memulai dengan perang tanding. Mulailah para jagoan Islam di tiap pasukan maju hingga membuat suasana memanas. Sementara Khalid berdiri menyaksikan laga tersebut.
Ditengah suasana yang sudah memanas, pemimpin pasukan lini depan Romawi yang bernama Jarajah ingin bertemu dengan Khalid di tengah dua pasukan. Ia bertanya mengenai agama Islam, maka Khalid memberitahukan dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Akhirnya, Jarajah masuk Islam, membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan pasukan Islam.
Melihat pembelotan Jarajah, pasukan Romawi menyerbu ke barisan kaum muslimin. Mahan memerintahkan pasukan sayap kanan menyerang menerobos pertahanan sayap kanan pasukan Islam. Kaum muslimin tetap tegar berjuang di bawah panji-panji mereka, hingga berhasil membendung serangan musuh.
Setelah itu, pasukan besar Romawi datang lagi bak gunung besar yang berhasil memporak-porandakan pasukan sayap kanan, hingga pasukan Islam beralih ke tengah. Tak lama kemudian, mereka saling memanggil agar kembali ke medan laga hingga berhasil memukul mundur kembali. Adapun para wanita, tatkala melihat ada tentara Islam yang lari mundur, mereka segera memukulinya dengan kayu, atau melemparinya dengan batu sehingga tentara tersebut kembali ke kancah peperangan.
Kemudian Khalid beserta pasukannya yang berada di sayap kiri menerobos ke sayap kanan yang kebobolan diserang musuh, hingga berhasil membunuh enam ribu tentara Romawi. Lalu Khalid membawa seratus pasukan berkuda menghadapi seratus ribu tentara Romawi hingga berhasil meluluhlantakkan pasukan musuh.
Pada hari itu, begitu terlihat kegigihan, kesabaran, dan kepahlawanan tentara-tentara Islam hingga pasukan Romawi berputar-putar seperti penumbuk gandum. Mereka tidak melihat, pada perang itu, melainkan kepala-kepala yang berterbangan, tangan-tangan maupun jari-jari yang terpotong, serta semburan darah yang membasahi medan laga.
Ketika itulah, seluruh pasukan Islam menyerbu dengan serentak, untuk kemudian dengan leluasa menghabisi musuh tanpa ada perlawanan sedikit pun. Jarajah pun akhirnya terluka parah dan meninggal dunia. Padahal beliau belum pernah shalat sekalipun, kecuali dua raka’at yang dikerjakan (diajarkan) oleh Khalid ketika baru/awal masuk Islam.
Peperangan ini berawal dari siang hingga malam, sampai kemenangan diraih oleh Islam dan kaum muslimin. Malam itu, pasukan Romawi berlari dalam kegelapan. Adapun pasukan Romawi yang diikat rantai besi, jika salah seorang dari mereka terjatuh, maka terjatuhlah seluruhnya. Malam itu, Khalid bermalam di kemah Tadzariq, pimpinan tertinggi pasukan Romawi.
Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada perang ini.
Demikianlah, kejayaan yang diraih oleh umat Islam tatkala mereka kokoh diatas kemurnian ibadah kepada Allah dan berpegang teguh kepada sunnah (ajaran) Rasul-Nya . Sebagaimana firman Allah (yang artinya):
”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal sholih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)
Wallahu a’lam bish showab.
Sumber: Situs Buletin Al-Ilmu
Subscribe to:
Posts (Atom)